MIDI ELECTONE TERBARU 2011

Posted in MIDI on 21 Februari 2011 by junayrie

Update Status Facebook

Untuk Mendapatkan Password Rar midi song lagu ini anda bisa bayar Rp. 20.000 (Dua Puluh Ribu Rupiah)

dengan cara transfer pulsa ke no hp saya yang ada txt didam format rar yang sudah di upload di http://www.ziddu.com

setelah transaksi pulsa berhasil harap sms ke no saya dan tunggu balasan sms kata sandi yang saya kirim.

terima kasih. BY UYIK KAYU BATU

Midi Eleckton
All Midi Uyik
Regist Uyik
Style Uyik

BY Junayrie / Uyik / Nery

LEGENDA PUTRI SILU LARI KEPUSAT AIR MEMBAWA TUAH NEGERI MENDATANGKAN BENCANA KEMARAU PANJANG DI KUTAI DIKISAHKAN OLEH NEK ESAH ALIAS NEK MANANG WARGA DESA MUARA KAMAN ILIR

Posted in Uncategorized on 5 Februari 2011 by junayrie

Kisah ini dimulai dengan lantunan lagu yang disebut neroyong sebagai berikut :

Dinegeri kutai dulu hikatnya, Hiduplah kejuntaian di dunia longa, Bukanlah dewa lain manusia, Sebagai pemberi alamat sealam raya.

Tujuh saudara hidup rukun dan tentramya, Penjaga alam kutai yang kaya-raya, Sayus kakak yang paling tua, Orangnya pintar pandai bahasa.

Songo kakak yang kedua, Orang kuat baik hatinya, Tapi saying bodoh orangnya, Hingga menjadi cerca para saudara.

Silu kakak ke tiga cantik molek parasnya, Selalu membawa tuah pada manusia, Negeri kutai ditinggalkannya, Karma takut besahu dengan kakak tertua

Sirumbai kaca kakak kempatnya, Sipatnya santun dan bersahaja, Tulus hati pemberi semengat hidup manusia, Karma memberi tidak mengarap apa-apa.

Rumbai nenang kakak kelima, Jujur hati penyejuk jiwa, Banyak orang kagum padanya, Sopan santun tutur bahasanya.

Sinaning kakak keenam yang susah hidupnya, Orangnya sabar tegar hatinya, Pemelihara semengat hidup didunia, Sangat arif dan bijaksana.

Sentanglah yang paling bungsu, Orangnya lugu serta pemalu, Tapi diasenang selalu membantu, Walaupun dia ditinggalkan ibu.

Tujuh saudara hidup bersatu, Dalam tugas bahu membahu, Jadi Alamat pastilah tentu, Kepada mahluk hidup diberitahu.

Cerita ini dikisahkan pada suatu hari terjadilah, hal yang memalukan, yang disebut sahu (tabu) karna perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh orang yang bersaudara kandung, kejadiannya takala terjadi hujan lebat dan atap rumah mereka mengalami kebocoran sehingga Sayus naik keatap rumah dan melihat adiknya Silu sedang memasak di dapur, dan taah (Kain sarung) yang dipakai silu sedikit terbuka dan memperlihatkan lekuan tubuhnya yang memang tiada tara indahnya dan kulit yang putih kuning serta paras yang cantik membuat darah sayus berdebar jantungya dan timbulah napsu birahinya, niat jahat itu lah yang akhirnya menjadikan pertikaian antara adik dan kakak.

Silu sudah mantap hatinya ingin berpisah dari saudara-saudaranya maka dibuatlah lanting besar (rakit) dari haur kuning (bambu kuning), dan lengkap dengan perbekalan harta pusaka serta manok sakan betina, (ayam hutan) kesayangan saniang jangkat dibawanya pula menurut cerita ayam ini lepas persis di Muara Kaman yang meninggalkan telur di gua bukit berubus, karena terburu-buru Silu lupa mengambil telur ayam tersebut hingga saniang jangkat mendatangkan bala (bencana), kemarau panjang saniang hanya mau menghilangkan sumpahnya jika ada binatang yang sanggup menetaskan telur tersebut. Dalam hikayat lain diceritakan bahwa hanya seekor lembulah yang dapat mengerami telur tersebut sehingga menjadi batu lembu tersebut kemudian dinamai lembu ngeram.

Sejak meninggalkan kampong halamanya silu menyusuri sungai mahakam, dan Sayus merasa bersalah sehingga di suruh oleh para saudaranya agar membawa adiknya kembali, karena Silu enggan lagi tinggal bersama dia tidak mau pulang, maka berbagai rintangan di buat untuk menghambat kepergian silu diantaranya di buat ulak Besar di Muara Kaman, Ulak Yupa beserta Pulaunya dan tiga pulau lainya yakni Pulau Kumala di Tenggarong dan Pulau Jerang di Jembaian tanahnya di ambil dari Gunung Betutu dan Gunung Malang di Senoni dan di muara sungai Mahakam ditanami bakau namun semua itu berkat kesaktian dan tuah silu dapat melanjutkan perjalananya sampai ke pusat air (Samudra Indonesia sekarang) yang berada selatan Pulau Jawa menurut cerita ini Putri Silu dikabarkan ditangkap oleh Raja Naga penguasa laut pantai selatan Jawa dan akhirnya menjadi penguasa pantai selatan maka silu sering memberikan tuah pada rakyat di sekitar pantai selatan, apakah Putri Silu adalah Ratu Segoro Kidul saya bertanya dan dijawab Allahualam Bin Sawab kehendak tuhanlah yang akhirnya membuat negeri di Jawa itu dibangun dari hasil alam dan bumi Kutai yang kaya karena, adapula sumpah raja kutai apabila anak cucuku melewati batas wilayah selatan tanah Jawa maka tuah dan kesaktiannya akan hilang di ambil oleh Putri Silu.

Sepeninggal Putri Silu, negeri kutai semakin kacau, Sayus dikabarkan lari ke daerah perbatasan Balikpapan dan Panajam di Pasir sekarang disana dijumpai gua yang digambari silu dengan alat kelamin peria dan wanita entah apa sebabnya itulah tanda penyesalanya yang digambarkan Sayus akibat perbuatannya semua makluk hidup di kutai mendapatkan bala (bencana).

Lain lagi sungai mahakam yang besar dan dalam airnya hampir kering karena kemarau panjang membuat bangsa para binatang ambil bagian dalam babak cerita ini. Ditengah kegelisahan makluk hidup dikutai hanya berharap semoga kejadian ini cepat berlalu, dalam dongengnya Dongengya Nek Esah bercerita tentang perilaku para binatang pada waktu itu, para binatang dikumpulkan guna membahas masalah apa yang sebenarnya terjadi Raja segala binatang mengadakan pertemuan di Udara rajanya burung Bunia atau Rembewang (Raja Wali) lajim disebut Burung Garuda, di hutan dikuasai Remaong (Singa) dan di Air dikuasai Ikan Pesut (Lumba-Lumba) entah bagaimana Cuma cerita ini dikisahkan akhirnya banyak para binatang yang mendapat hukuman seperti, Bebek di hukum tidak bias terbang jauh gagal mengerami telur Sakan dan Burung Coek dihukum mencari makan hanya di malam hari karma dalam mencari Silu dialakukan hanya malam hari,serta Tikus menggali tanah pada waktu disuruh Sayus membuat tiga pulau maka seumur hidupnya dihukum menggali tanah, sedangkan Burung ketinjau (Kutilang), dianugerahi sumpah apabila manusia memakan daginya akan terjangkit penyakit kodong (Kudisan), dan diberi suara yang merdu karena dilah yang menijau dan memberitahukan bahwa sebab terjadinya kemarau oleh perbuatan Sayus ingin bersahu kemudian telur manok sakan (ayam hutan) kesayangan saniang jangkat dierami lembu sampai jadibatu, cerita ini kemudian menjadikan mistik batin Lembu Ngeram menjadi Lambang Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman.

Pertemuan Putri silu dengan utusan dari Kutai, siapa gerangan yang menemui silu, Nek Esah menjawab alkisah seekor Kupu-kupu meminta persetujuan Saniang apabila dirinya berhasil menemui si Putri Silu maka dia meminta apabila kemarau sudah berhenti dan pohon serta tanaman lain berbunga maka bangsanyalah yang harus mencicipi terlebih dahulu sari-sari madu dari bunga-bunga tersebut, dan permintaanya dikabulkan oleh Saniang, dan berangkatlah kupu-kupu menuju pusat air, sesampainya di tepi laut kupu-kupu menaiki buyah air (Gelembung Air), hingga berbulan bulan kupu-kupu mencari Putri Silu dan akhirnya pertemuan itulah kupu-kupu menerima pesan Putri Silu agar disampaikan kepada makluk hidup di kutai, bahwasanya dirinya tidak dapat kembali lagi dan dia memberikan alamat bahwa apabila manusia ingin mendapatkan tuah maka buatlah Saniang Ayu sebagai perlambang batinku dan aku akan datang tanpa dilihat mata dan akan memberikan padah bagi ganjaran hubungan antara alam gaib dan kehidupan nyata manusia di kutai.

SEJARAH KUTAI KARTANEGARA KERAJAAN TERTUA DI INDONESIA

Posted in Uncategorized on 5 Februari 2011 by junayrie

dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.
Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara Kaman.
Pada awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).
Dengan adanya dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ini tentunya menimbulkan friksi diantara keduanya. Pada abad ke-16 terjadilah peperangan diantara kedua kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah rajanya Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).
Tahun 1732, ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan.

Perpindahan ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara dari Kutai Lama (1300-1732) ke Pemarangan (1732-1782) kemudian pindah ke Tenggarong (1782-kini).
Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo Lamaddukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.
Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga. Sepeninggal Sultan Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.
Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai putera mahkota yang syah dari Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda Seberang). Sejak itu dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado.
Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak dapat dipenuhi.
Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.

Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.
Pada tahun 1838, Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin setelah Aji Imbut mangkat pada tahun tersebut.
Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James Erskine Murray asal Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray datang ke Kutai untuk berdagang dan meminta tanah untuk mendirikan pos dagang serta hak eksklusif untuk menjalankan kapal uap di perairan Mahakam. Namun Sultan A.M. Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini. Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan meriam kearah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai. Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk diantara yang tewas tersebut.

Relief peristiwa pertempuran Awang Long Senopati pada Monumen Pancasila, Tenggarong

Insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai ke pihak Inggris. Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan terhadap Kutai, namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. Kemudian Belanda mengirimkan armadanya dibawah komando t’Hooft dengan membawa persenjataan yang lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada t’Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan A.M. Salehuddin diungsikan ke Kota Bangun. Panglima perang kerajaan Kutai, Awang Long gelar Pangeran Senopati bersama pasukannya dengan gagah berani bertempur melawan armada t’Hooft untuk mempertahankan kehormatan Kerajaan Kutai Kartanegara. Awang Long gugur dalam pertempuran yang kurang seimbang tersebut dan Kesultanan Kutai Kartanegara akhirnya kalah dan takluk pada Belanda.
Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang Residen yang berkedudukan di Banjarmasin.
Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang pertama di pantai timur Kalimantan.
Pada tahun 1850, Sultan A.M. Sulaiman memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Kutai kartanegara Ing Martadipura.
Pada tahun 1853, pemerintah Hindia Belanda menempatkan J. Zwager sebagai Assisten Residen di Samarinda. Saat itu kekuatan politik dan ekonomi masih berada dalam genggaman Sultan A.M. Sulaiman (1850-1899).
Pada tahun 1863, kerajaan Kutai Kartanegara kembali mengadakan perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda.
Tahun 1888, pertambangan batubara pertama di Kutai dibuka di Batu Panggal oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga meletakkan dasar bagi ekspoitasi minyak pertama di wilayah Kutai. Kemakmuran wilayah Kutai pun nampak semakin nyata sehingga membuat Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi sangat terkenal di masa itu. Royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai diberikan kepada Sultan Sulaiman.
Tahun 1899, Sultan Sulaiman wafat dan digantikan putera mahkotanya Aji Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin.

A.P. Mangkunegoro
Pada tahun 1907, misi Katholik pertama didirikan di Laham. Setahun kemudian, wilayah hulu Mahakam ini diserahkan kepada Belanda dengan kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun kepada Sultan Kutai Kartanegara.
Sultan Alimuddin hanya bertahta dalam kurun waktu 11 tahun saja, beliau wafat pada tahun 1910. Berhubung pada waktu itu putera mahkota Aji Kaget masih belum dewasa, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.

Sultan A.M. Parikesit

Pada tanggal 14 Nopember 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit.
Sejak awal abad ke-20, ekonomi Kutai berkembang dengan sangat pesat sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co. Di tahun-tahun tersebut, kapital yang diperoleh Kutai tumbuh secara mantap melalui surplus yang dihasilkan tiap tahunnya. Hingga tahun 1924, Kutai telah memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden – jumlah yang sangat fantastis untuk masa itu.
Tahun 1936, Sultan A.M. Parikesit mendirikan istana baru yang megah dan kokoh yang terbuat dari bahan beton. Dalam kurun waktu satu tahun, istana tersebut selesai dibangun.
Ketika Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, Sultan Kutai harus tunduk pada Tenno Heika, Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan gelar kehormatan Koo dengan nama kerajaan Kooti.
Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.
Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang “Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Daerah Tingkat II Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda
Pada tanggal 20 Januari 1960, bertempat di Gubernuran di Samarinda, A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur, dengan atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga daerah swatantra tersebut, yakni:
1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai
2. Kapt. Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda
3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan
Sehari kemudian, pada tanggal 21 Januari 1960 bertempat di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono (Walikota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan). Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dibawah Sultan Aji Muhammad Parikesit berakhir, dan beliau pun hidup menjadi rakyat biasa.

Sultan H.A.M. Salehuddin II

Pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Pada tanggal 7 Nopember 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putera Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan maksud diatas. Presiden Wahid menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putera mahkota H. Aji Pangeran Praboe.
Pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penabalan H.A.P. Praboe sebagai Sultan Kutai Kartanegara baru dilaksanakan pada tanggal 22 September 2001. (KutaiKartanegara.com)

Lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti

Posted in Uncategorized on 5 Februari 2011 by junayrie

SEJARAH RAJA KUTAI

Lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti
( Raja Kutai Kartanegara Pertama )
Tersebutlah didalam hikayat Kutai, bahwasanya Petinggi Jaitan Layar dengan isterinya tinggal di sebuah gunung, di tempat mana mereka membuka sebuah kebun untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Puluhan tahun mereka hidup sebagai suami isteri, namun Dewa di khayangan belum juga menganugerahkan seorang anak pun sebagai penyambung dari keturunan mereka untuk memerintah negeri Jaitan Layar ini. Sering Petinggi Jaitan Layar beserta isterinya bertapa, menjauhi kerabat dan rakyatnya, memohon kepada Dewata untuk mendapatkan anak.
Pada suatu malam ketika mereka sedang tertidur dengan nyenyaknya, terdengar suara diluar rumah yang begitu gegap gempita hingga menyentakkan mereka dari tidur di peraduan. Mereka pun bangkit membuka pintu untuk melihat apa gerangan yang terjadi diluar rumah.
Nampaklah oleh mereka sebuah batu besar yang melayang dari udara menghempas ke tanah. Suasana malam yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang benderang seakan-akan bulan purnama sedang memancar.
Terkejut melihat batu dan alam yang terang benderang itu, Petinggi beserta isterinya segera masuk kembali kedalam rumah serta menguncinya dari dalam. Dari dalam rumah mereka mendengar suara yang menyerunya.
“Sambut mati babu, tiada sambut mati mama!”
Sampai tiga kali suara ini didengar oleh Petinggi Jaitan Layar dan akhirnya dengan rasa cemas dijawabnya juga, “Ulur mati lumus, tiada diulur mati lumus!”
“Sambut mati babu, tiada disambut mati mama.” kembali suara itu terdengar.
“Ulur mati lumus, tiada diulur mati lumus.” jawab si Petinggi.
Dan terdengarlah gelak ketawa dari luar rumah sambil berkata, “Barulah ada jawaban dari tutur kita”. Mereka yang diluar rumah itu agaknya sangat gembira sekali, karena tutur katanya mendapatkan jawaban.
Petinggi Jaitan Layar pun tidak merasa takut lagi dan kemudian keluar rumah bersama isterinya mendatangi batu itu yang ternyata adalah sebuah raga mas. Raga mas itu lalu dibuka dan betapa terkejutnya Petinggi beserta isterinya tatkala melihat didalamnya terdapat seorang bayi yang diselimuti dengan lampin berwama kuning. Tangannya sebelah memegang sebuah telur ayam, sedang tangan lainnya memegang keris dari emas, keris mana merupakan kalang kepalanya.
Pada saat itu menjelmalah tujuh orang Dewa yang telah menjatuhkan raga mas itu. Mereka mendekati Petinggi Jaitan Layar dengan muka yang gembira memberi salam dan salah seorang dari Dewa itu menyapa Petinggi, “Berterima kasihlah kepada Dewata, karena doamu dikabulkan untuk mendapatkan anak. Meskipun tidak melalui rahim isterimu. Bayi ini adalah turunan dewa-dewa dari khayangan, karena itu jangan sia-siakan untuk memeliharanya, tapi jangan dipelihara seperti anak manusia biasa.”
Dewa juga berpesan agar bayi keturunan dewa ini jangan diletakkan sembarangan diatas tikar, akan tetapi selama empat puluh hari empat puluh malam bayi ini harus dipangku berganti-ganti oleh kaum kerabat Petinggi.
“Bilamana engkau ingin memandikan anak ini, maka janganlah dengan air biasa, akan tetapi dengan air yang diberi bunga wangi.”
“Dan bilamana anakmu sudah besar, janganlah ia menginjak tanah, setelah diadakan erau (pesta), dimana pada waktu itu kaki anakmu ini harus diinjakkan pada kepala manusia yang masih hidup dan pada kepala manusia yang sudah mati. Selain itu kaki anakmu ini diinjakkan pula pada kepala kerbau hidup dan kepala kerbau mati.”
“Demikian pula bilamana anak ini untuk pertama kalinya ingin mandi ke tepian, maka hendaklah engkau adakan terlebih dahulu upacara erau (pesta) sebagaimana upacara pada tijak tanah.”
Setelah pesan-pesan tersebut disampaikan oleh salah seorang Dewa itu maka ketujuh Dewa itu naik kembali ke langit. Petinggi dan isterinya dengan penuh rasa bahagia membawa bayi itu masuk ke rumahnya. Bayi ini bercahaya laksana bulan purnama, wajahnya indah tiada bandingnya, siapa memandang akan bangkit kasih sayang terhadapnya.
Akan tetapi isteri Petinggi susah hatinya, karena payudaranya tidak dapat meneteskan air susu. Apa yang bisa diharapkan lagi dari seorang perempuan yang sudah tua untuk bisa menyusui anaknya?

GAJAH MADA TERNYATA ORANG DAYAK

Posted in Uncategorized on 5 Februari 2011 by junayrie

Soal nama Gajah Mada menurut masyarakat Dayak di Kalbar perlu diketahui bahwa Gajah Mada bukan orang Jawa, ia adalah asli orang Dayak yang berasal dari Kalimantan Barat, asal usul kampungnya yaitu di Kecamatan Toba (Tobag), Kabupaten Sangga…u Kalimantan Barat (saat ini).

Banyak masyarakat Dayak percaya bahwa Gajah Mada adalah orang Dayak, hal itu berkaitan dengan kisah tutur tinular masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio yang menyatakan Gajah Mada adalah orang Dayak. Ada sedikit perubahan nama dari Gajah Mada pada Dayak Krio menjadi Jaga Mada bukan Gajah Mada namun Dayak lainnya menyebutnya dengan Gajah Mada.

Sebutan itu sudah ada sejak lama dan Gajah Mada dianggap salah satu Demung Adat yang hilang. Ada kemungkinan ia diutus Raja-Raja di Kalimantan. Ia berasal dari sebuah kampung di wilayah Kecamatan Toba (saat ini). Hal itu dibuktikan dengan ritual memandikan perlengkapan peninggalan Gajah Mada setiap tahunnya. Gajah Mada dianggap menghilang dan tidak pernah kembali ke Kalimantan Barat.

Kisah yang memperkuat bahwa ia memang asli Dayak dan berasal dari Kalbar yaitu ia adalah seorang Demung Adat dibawah kekuasaan Raja-Raja di Kalimantan. Ia seorang Demung dari 10 kampung yang ada, namun setelah dia menghilang entah kemana, kampung tersebut kehilangan satu Demung Adatnya sehingga Demung Adat di wilayah itu tinggal 9 orang saja lagi.

Kisah ini sampai sekarang masih dituturkan oleh kelompok masyarakat Dayak ditempat asalnya Gajah Mada. Bukti-bukti tersebut sangat kuat dan bisa dibuktikan sebab Kerajaan tertua letaknya bukan di Jawa tetapi justeru di Kalimantan sehingga unsur Hindu lebih mempengaruhi setiap sikap dan tata cara hidup dan Hindu pun lebih dulu ada di Kalimantan bukan di Jawa. Alasan ini sangat masuk akal bahwa pengaruh Hindu di Jawa sangat dipengaruhi oleh kerajaan Kutai di Kalimantan dan kemungkinan Gajah Mada adalah orang kuat yang diutus kerajaan Kutai untuk menjajah nusantara termasuk Jawa.

Dalam kisah Patih Gumantar Dayak Kanayatn (Dayak Ahe) Kalimantan Barat bahwa Patih Gajah Mada adalah saudaranya Patih Gumantar, mereka ada 7 bersaudara. (Baca Buku, Mencermati Dayak Kanyatan)

Satu lagi soal nama Patih Gajah Mada bahwa gelar Patih itu sendiri hanya ada di Kalimantan khususnya Kalbar dan satu-satunya patih di Jawa adalah Gajah Mada itu sendiri, tidak ada patih lain dan itu membuktikan bahwa gelar “Patih” berasal dari silsilah kerajaan di Kalimantan bukan dari Jawa.
sumber : http://www.sukasejarah.org

Kesah Lalau Kutai

Posted in Uncategorized on 5 Februari 2011 by junayrie

Si jumpret dgn si tongos bjlan ke hutan ncari burung…
“pret, ad kw mbwa alatnya?”
“ad les ngos, ni q mbwa ranting ngan tali. Kw ad mbwa umpanya”
“ad leh. Q mbwa kuini y deh pesek kemai”.
Pas di tgh hutan.. Teprosok si tongos….
…”ADDOOOOH”
“ap ngnai kw ngos?”
“mdai kw ndk mlhat ni.. Teprosok lah”
“pah.. Nde g2h lagi kw ngos.”
“mksudnya.?”
“ni… Tongosmu tinggelan atas”
“lopat leh pret… Hilang hk gigiku ni…”
“ngos.. Tongosmu je yoh ye jadikan perangkapnya”
Langsung bawa lari jumpret

Ayus Dan Ongo

Posted in Uncategorized on 5 Februari 2011 by junayrie

Si Ayus dgn Ongo ni hndak bemasak’an..
“Yus, msak ap etam hari ni?”
“Awk pegi warung ye di hdpan rumah tu meli tigu dgn gula sekilo”
“Mdai q ye meli.?”
“ndak msak nde kw..?” ancam ayus.
…”Yok hk”.. Pas hndak kluar rumah tegetok iy lawang.
“Ap yo tadi hndk beli q?”… Kalinya pegi iy ke warung. Langsung hk tanyai penjualnya
“Ndak meli ap kw”
” sagu sekilo” uj ongo
“oh ni.. 2500 hargnya”… Meli hk tu iy
Kali pas dtang rumah. Beran bneh Ayus
“Apa jua kw ni ngo.”
“Leh kw j nyuruh q meli ni.”
“tadi ap suruhku.?”
“kau tadi nyuruh meli sagu sekilo”
…”Lopat leh.. Aku tadi nyuruh kau meli tigu dgn gula sekilo.. Laen sagu sekilo..”
“sapa jua nyuruh ncarang ndk jelas” blas ongo
Amun ayus ni masam bneh muhanya gra2 kesalan..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.